Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Berakhir di Kota Wonogiri


Haaaaay. Udah lama banget ya Asti nggak posting cerpen. Berapa bulan yang lalu ya? LAMA BANGET yang jelas ! Nah, sekarang Asti mau kasih cerpen ke kalian. Ini sebenernya diikutkan lomba, tapi nggak menang. Jadi posting disini deh. Sedih :'( . #CURHATMODEON.


Sudah 3 tahun lamanya aku mengalami masa-masa sulit. Sulit untuk mencari penggantinya. Bagaimana bisa seperti ini? Ini benar-benar pertama kalinya aku mengalami kesulitan melupakan seseorang. Sebelumnya, aku bisa begitu mudah dengan yang namanya “melupakan”. Tapi semenjak bertemu dan mengakhiri hubungan dengannya, tidak segampang dengan yang lain.
Dan untuk saat ini, aku mencoba melupakannya dengan berpacaran dengan Yudi. Saat ini aku sudah 1 tahun menjalani bersama Yudi. Yudi tidak tahu kalau aku masih belum bisa menghilangkan bayang-bayang Rendy. Aku jahat, memang. Aku mengira bersama Yudi, aku bisa menghilangkan kenangan bersama Rendy dulu. Walau kenangan itu yang hanya lewat pesan singkat dan email-email yang dikirimkan untukku.
Dan besok tepat Anniversary pertamaku bersama Yudi. Dan kebetulan sekali tepat kami berdua libur kuliah. Aku masih malas-malasan berbaring di tempat tidur. Aku terus memutar playlist yang berisi lagu-lagu yang diberikan Rendy dulu. Aku selalu membawa kartu SD yang berisi playlist tersebut. Untungnya, Yudi tidak menyadari.
1.      Kisah Romantis by Glen Fredly
2.      Lebih Indah by Adera
3.      Ku Pinang Kau Dengan Bismillah by Ungu feat Rossa
4.      Betapa Aku Mencintaimu by Vagetoz
5.      Aishiteru by Zhifilia
Walau cuma enam lagu, tapi ini bener-bener lagu yang buat aku ngerasa istimewa. Aku benar-benar meridukannya saat ini. Mau mencari info pun percuma. Aku benar-benar tidak tahu keberadaannya sekarang. Sudah dibohongi identitas olehnya, aku masih saja bisa-bisanya merindukan dan menginginkannya kembali. Sudah nyaman dengannya. Rata-rata bukannya perempuan seperti ini? Terlanjur nyaman dan akhirnya susah move on.
Aku memang tidak pernah menerima telpon darinya, telpon dariku pun tak pernah dia jawab. Alasannya cukup klise. Dia nggak suka telponan. Baru kali ini aku bertemu laki-laki yang tidak ingin telponan. Aku ketemu dia? Karena Facebook. Ya begitulah, aku sudah terlanjur seneng dengan dunia maya. Dan sampai ahirnya aku bertemu dia yang berasal dari Wonogiri. Ceritanya? Panjang. Saat ini aku benar-benar merindukannya. Merindukan pesan-pesang singkat manis darinya untukku. Apa kabar dia ya?
“Mbak... Ada Yudi di ruang tamu. Cepet keluar. Mama mau keluar sama papa.”
“Iya sebentar maaah. Mau ganti baju.”
Ternyata Yudi beneran kesini, aku kira hanya ngomong doang. Aku langsung mematikan musiknya. Buru-buru ganti baju dan turun ke bawah. Yudi menggunakan baju yang biasa aja, berarti ia ingin main di rumahku saja. Aku tersenyum manis menemuinya.
“Ada apa?”
“Main aja kok. Yoga tidur?”
“Nggak tau. Masih main di kamar kali.”
“Aku ke kamarnya ya.”
Aku hanya mengangguk kecil. Kadang aku merasa, aku ini jahat sekali. Yudi benar-benar tulus denganku, sampai ia rela akrab dengan Yoga. Padahal, Yoga reseknya minta ampun. Sudah banyak laki-laki yang sempat menjadi pacarku lari terbirit-birit keluar dari rumah karena keusilan Yoga. Dan entah pakai sihir apa, Yudi bisa buat Yoga jadi jinak.
Aku hanya membuntutinya dari belakang. Aku yakin, Yoga pasti bakal teriak “KAK YUDIIII. KOK BARU DATENG? KEMANA AJA? YOGA KANGEN NIH MAIN SAMA KAKA”. Dan benar saja, setelah aku berpikir itu, Yoga teriak sama persis dengan bayanganku. Aku hanya tersenyum tipis. Ternyata Yoga sedang sibuk bermain PS.
“Kak Yoga main PS sama aku yuk? Tekken ya?” Ajaknya sambil menarik-narik tangan Yudi.
“Loh? Kaka nggak diajak?”
“Kaka liat aja. Ini mainan cowo.”
Oke, Yoga memang ngeselin. Lebih baik aku kembali ke kamar sajalah. Kalau sudah selesai juga pasti Yudi mengetuk pintu kamar. Aku menutup kamarku dan meneruskan playlist yang sempat aku hentikan. Yap, aku kembali galau. Mengingat semuanya, mengingat semua kenangan. Mengingat saat aku kesepian karena kehilangan kak Vicka. Menenangkanku dengan kata-kata “Maaf sayang aku nggak bisa ksana. Perlu aku kirimin 1000 badut?”. Disitu aku benar-benar lega punya dia. Namun sekarang? Entahlah. Aku hanya bisa berharap secepat mungkin Yudi bisa menggantikan posisi Rendy.
Lagu Kisah Romantis by Glen Fredly terputar kembali. Lagu ini memang bener-bener romantis banget. Aku sampai tak bisa berkata apa-apa ketika Rendy menyuruhku mendownload dan mendengarkan lagu ini. Aku melihat keluar kaca, hujan turun dengan suara khasnya. Aku hanya bisa membayangkan, Rendy tiba-tiba datang ke rumah. Khayalanku semakin menjadi-jadi. Aku hanya menatap keluar dengan tatapan kosong.
“Nin? Belom tidur kan?” Suara Yudi.
“Belom Yud. Kenapa?”
“Aku tunggu di ruang tamu ya.”
Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Aku juga bersyukur memiliki Yudi yang sangat sopan. Walau di rumah mama dan papa tidak ada, tetapi ia tidak akan pernah masuk ke kamarku. Karena menurutnya, kamar adalah ruangan privasi setiap orang. Untungnya, mungkin ia akan kecewa jika melihat kamarku penuh dengan munched yang berisi pesan singkat dari Rendy. Aku menghampirinya yang sedang duduk sambil melihat acara TV di ruang tamu.
“Kenapa Yud?”
“Inget besok kita Anniv?”
“Inget kok.”
“Aku udah beliin tiket pesawat ke Solo. Aku mau ajak kamu ke Wonogiri ketemu sama Kakek. Mau?”
Aku hanya mengangguk kecil mendengar kata Wonogiri. Yudi langsung pamit dan mengecup keningku. Aku masih terduduk diam di sofa. Bagaimana aku bisa lupa kalau Yudi punya kakek di Wonogiri? Bagaimana bisa? Untung bik Nok mengingatkanku, kalau tidak aku mungkin akan terus duduk di sofa ruang tamu. Aku menaiki anak tangga sambil terus memikirkan besok, besok aku ke Wonogiri. Itu artinya?
Pagi-pagi sekali Yudi sudah berada di rumah. Aku buru-buru membawa barang-barang yang akan aku bawa kesana. Aku seperti mendapat cahaya terang. Senyumku juga tidak berat, benar-benar ringan. Ternyata mama dan papa sudah menunggu juga. Aku pamit kepada mama dan papa, tentunya Yoga belum bangun. Karena? Mungkin aku tak kan diizinkan dia untuk pergi.
Kami diantar oleh sopir pribadi Rendy ke bandara Soekarno-Hatta. Aku tertidur selama perjalanan. Selama 1 jam di perjalan. Kami sampai di bandara. Bandara cukup lengang, karena belum musim liburan. Aku hanya mengikuti kemana Yudi berjalan. Aku sedang sibuk dengan handphone ku. Menceritakan kepada teman-teman kampusku.
Dan tiba-tiba saja aku sudah di depan Pramugari.
“Mbak, handphonenya harap dimatikan.”
Aku pun menuruti kata-kata pramugari itu. Yudi memilihkanku tempat dekat kaca, karena ia tahu aku sangat senang duduk dekat kaca. Jujur, aku sangat senang melihat awan. Dari kecil ketika naik pesawat aku selalu berebutan dulu sama kak Vicka untuk mendapat tempat yang kita mau.
Nggak butuh waktu lama sampai di Solo, sampai di bandara ternyata sudah ada yang menjemput. Dan disinilah waktu yang lama. Perjalanan dari Solo ke Wonogirinya. Aku hanya menghela nafas. Ku masukkan semua barang-barangku ke dalam bagasi. Di perjalanan, aku terjaga dengan handphoneku. Sedangkan Yudi, terlelap di sebelahku.
Kamu tulus banget Yud, tapi aku jahat gini ke kamu. Aku harus gimana? Sayang kamu itu udah besar ya Yud? Kamu sadar nggak sih aku jahat banget sama kamu Yud? Kamu tau nggak sih aku tetep nggak bisa lupain dia walau kamu disamping aku Yud? Kamu tau nggak sih senyum aku ke kamu itu berat Yud? Kamu sadar atau pura-pura sih Yud?
Aku hanya diam seribu bahasa di perjalanan. Memandangi pemandangan di luar, hujan terus turun dari langit. Dan lagu dari Zhifilia yang Aishiteru diputar oleh penyiar radio menemaniku yang masih terjaga. Aku sedikit terlonjak mendengar lagu itu dan kembali merenung. Memandang keluar dan aku pun terlelap.
...
Aku bangun ketika menyadari mesin mobil mati. Aku melihat ke sekitar, dan di depanku sudah ada rumah yang bergaya jaman dulu. Benar-benar asri rumahnya. Banyak phon-pohon rindang yang membuat sejuk. Dan halaman rumah pun luas, tentunya ditanami rumput-rumput kecil. Aku keluar mobil dan melihat ke pemandangan dari atas sini, ternyata sedikit diatas bukit rumah ini. Aku menghirup udara dalam-dalam.
“Mau ketemu kakek?” Tiba-tiba Yudi masuk memelukku dari belakang. Aku hanya mengangguk kecil.
Aku dituntun masuk ke dalam rumah ini oleh Yudi. Ada seorang kakek yang sedang duduk di salah satu goyang dan seorang nenek yang sedang menyuapinya. Mungkin itu mereka. Ketika mereka menyadari aku datang bersama Yudi, mereka tersenyum melihatku. Senyum bahagia, terlihat dari sorot matanya yang ikut bersinar dengan senyum itu.
Aku mencium tangan mereka, mereka hanya mengangguk. Aku menggantikan neneknya yang sedang menyuapi kakek. Sepertinya aku benar-benar menjadi jahat setelah melihat kakek dan nenek Yudi. Menyakiti cucunya yang sangat tulus kepadaku. Oh... apa yang kulakukan sekarang? Sepertinya aku harus benar-benar menerima Yudi seperti Yudi menerimaku dan melupakan semua yang telah aku dan Rendy lakukan dahulu. Ya, itu yang seharusnya kulakukan sekarang. Aku akan mencoba.
Malam ini, Yudi mengajakku untuk berkeliling kota Wonogiri. Mungkin suasana malam kota ini keren. Daripada nggak kemana-mana, ya lebih baik keluar lihat kota Wonogiri. Harapanku? Semoga saja aku tidak sengaja bertemu Rendy, tentunya dengan foto yang telah dia berikan ke aku. Oke, aku memang hanya mengandalkan foto. Selebihnya? Nothing. Nggak ada. Aku beristirahat sejenak di kamar kosong yang sudah disediakan. Supaya nanti malam terlihat lebih fresh. Yudi tetap menemani kakek mengobrol. Mungkin nanti ia juga akan tidur di kamar yang terletak disebelahku. Aku pun melihat ke seisi kamar ini, lumayan. Aku langsung terjun ke tempat tidur dan terlelap.
...
Sekarang aku sudah berada di atas vespa milik kakek-nenek nya Yudi. Udara disini saat malam benar-benar dingin. Aku sampai mendouble jaketku dengan jaket milik neneknya Yudi. Yudi hanya menggunakan jaket jeansnya. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya, rasa hangat yang berasal dari tubuhnya mengalir ke tubuhku. Hangat tubuh Yudi benar-benar membuatku nyaman, aku bersender ke punggungnya. Melepas penat untuk sekejap.
“Nin? Kita mau kemana?” Ternyata Vespa sudah berhenti di suatu tempat, entah ini dimana. Aku tak tahu.
“Kemana? Kita makan aja enak kali ya Yud?” Sepertinya perutku juga sudah meraung kelaparan.
“Yaudah aku cari tempat makan. Kamu jangan tidur aja dong. Lampu-lampunya bagus loh.” Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Yudi.
Aku nggak punya panggilan sayang untuk Yudi, Yudi pun begitu. Pacaran kami begitu sederhana. Ya sederhana. Yudi yang tulus dan aku yang diam-diam masih mengharapkan Rendy. Oh ya, Rendy kamu dimana? Aku sekarang di Wonogiri loh. Dari dulu aku mau kesini nemuin kamu, sekarang kesininya sama Yudi. Kita bisa ketemu nggak ya? Aku Cuma mau liat langsung kamu sekali aja.
Vespa sudah berhenti di depan salah satu rumah makan di daerah kota Wonogiri. Aku masih terdiam di kursi belakang. Aku melihat ke tempat makan, tempatnya benar-benar romantis. Aku turun dari motor, begitu juga dengan Yudi. Yudi melepaskan helm yang masih bertengger manis di kepalaku. Aku melempar pandangan ke barisan motor yang ada di sekitarku. Dan menangkap Satria Fu merah-hitam dengan plat yang tidak asing lagi di kepalaku. Plat motor Rendy. Rendy ada di rumah makan ini juga? Benarkah? Aku jadi tersenyum harap, semoga.
Yudi menggandeng tanganku. Aku sibuk mencari-cari orang yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing di dalam rumah makan ini. Mataku berusaha menjadi mata kelelawar di malam hari. Aku harus menemukannya. Tapi, atau mungkin motornya dipakai oleh kakaknya. Ya, bisa jadi dipakai kakaknya. Kenapa pikiranku begitu pendek? Menyimpulkan sesuatu dengan seenaknya.
Yudi memilihkan tempat yang benar-benar romantis suasananya. Aku sedikit terharu dengannya. Aku duduk berhadapan dengannya. Senyumnya yang tulus ditambah tatapan matanya yang tajam sudah tidak diragukan lagi kalau ia benar-benar tulus denganku. Bagaimana bisa aku menyia-nyiakannya? Banyak perempuan disana yang rela tekuk lutut demi mendapatkan hati Rendy ini.
“Kamu mau apa sayang?” Ini pertama kalinya Yudi memanggilku dengan sebutan “sayang”, aku sedikit kaget mendengarnya.
“Ikut kamu aja sayang. Minumnya juga.” Otomatis aku harus balas memanggilnya dengan “sayang”.
Yudi memilih kan makanan khas sini dan teh hangat. Dia berdiri dan mengambil sesuatu di saku belakangnya. Dan munculah kotak kecil dari sakunya. Aku hanya tersenyum, ini senyum tulusku untuknya. Akhirnya. Dari sorot mataku, pasti Yudi tahu aku bertanya “apa ini?”. Yudi hanya menyuruhku untuk membukanya. Begitu aku buka, sebuah kalung berliontin bongkahan es batu. Aku benar-benar tertegun melihatnya. Bagaimana bisa? Yudi memang tahu aku sangat hobi memakan es batu. Tapi? Bagaimana mendapatkan liontin dengan bentuk seperti ini? Yudi memakaikanku kalung itu. Setelah Yudi mengaitkan kalung. Ia hanya tersenyum kepadaku.
“Kamu suka?” Tanyanya.
“Banget. Bagaimana bisa kamu dapatkan kalung berliontin unik ini?” Aku tersenyum, senang.
“Rahasi. Aku ke belakang dulu ya.” Yudi pun pamit ke belakang.
Aku mengalihkan pandangan ke sekitarku. Aku melihat sosok yang sangat aku kenal. Hidungnya, alisnya, bibirnya, rambutnya dan matanya. Itu Rendy! Pacar dunia mayaku, tepatnya mantan. Aku benar-benar bertemu Rendy. Perasaanku campur aduk saat ini.
Namun, ternyata ia pergi kesini tidak sendirian, bersama seorang perempuan yang sangat manis. Pakaiannya sangat anggun. Tatanan rambutnya rapih. Malam itu pun, Rendy menggunakan setelan jas. Dan ternyata ada kedua orang tua menghampiri mereka. Sepertinya masing-masing orang tua mereka. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Setiap kejadian yang terjadi disana aku lihat.
Mereka tertawa ringan. Orang tua Rendy memuji perempuan itu, perempuan itu hanya tersenyum. Rendy juga tersenyum. Semua yang duduk disana tersenyum. Aku bisa merasakan betapa bahagianya mereka. Dan sepertinya acara mereka dimulai. Aku tahu... ini pertunangan. Rendy mengeluarkan cincin dan memasangkannya di jari manis perempuan itu. Tanpa kusadari, aku membiarkan air mata jatuh di pipiku. Entah karena batin atau apa, Rendy melihatku. Tentunya Rendy sangat kaget ketika aku tersenyum ke arahnya. Rendy benar-benar kaget. Wajahnya yang tadi terlihat ceria kini shock ketika melihatku. Ia bangkit dari tempat duduknya ketika Yudi datang. Aku langsung menarik Yudi keluar dari rumah makan itu. Pikiranku kacau. Aku...kecewa...
Sepanjang jalan, baju bagian punggung Yudi basah dengan air mataku. Aku masih mengingat setiap kronologi kejadian tadi dan ekspresi muka Rendy. Aku dan Rendy memang tidak pernah putus. Aku maupun Rendy nggak ada yang mengucapkan kalimat seperti “kita putus”. Dan itu masih terasa sakitnya. Sekarang? Rendy sudah bertunangan dengan perempuan itu. Aku? Mencoba menerima Yudi. Menerimanya dengan tulus, bukan akting lagi. Dan lagu “Lumpuhkan Ingatanku” by Geisha terputar oleh radio yang sedang ku dengarkan menggunakan headset.

Minggu, 17 November 2013

Mimpi Jam 6 Pagi

Kriiing...
Kriiing...
Siapa sih yang coba-coba ganggu aktivitas gue di hari Minggu ini? Sialnya di rumah cuma ada gue. Dengan langkah gontai bangkit dari tempat tidur kesayangan, gue menuju lantai bawah untuk mengangkat telepon. Gue coba lirik jam kuno di sudut ruangan, jam 7 pagi. Jangan bilang ini telepon ajakan temen-temen gue buat jogging. Not good time!
"Selamat pagi. Dengan rumah keluarga Santoso. Ada yang bisa saya bantu?" Ini kalimat pertama yang harus gue lontarkan kalau gue terima telepon lewat telepon rumah.
"Selamat pagi juga. Bisa bicara dengan Feronika Mauldy Khairunnisa Santoso?" Suara resmi dari seberang telepon sepertinya bukan telepon dari temen-temen gue yang kalau ngomong nggak ada etika.
Lalu siapa? Atau ini telepon dari polisi? Duh, masa iya kesalahan gue nggak pakai helm waktu itu ketahuan? Setahu gue, itu polisi nggak bunyiin peluit deh. Gue coba jawab dengan hati-hati.
"Iya. Saya sendiri. Ada apa ya?" Jujur aja, jantung gue deg-degan.
"Kami dari pihak publisher *****. Ingin memberi tahu anda bahwa novel anda yang berjudul "Long Died Realitionship" kami terima dan dua bulan kedepan akan kami terbitkan." Mendengar suara dari seberang berhenti memberi tahu maksud mereka telepon. Gue langsung loncat-loncatan di sofa ruang tamu. Gila, gue nggak nyangka novel itu bakal diterbitin!!!!!
...
"Feroooo. Banguuuuun. Sudah jam 6 lewat." Itu teriakan nyokap. Tapi kok begitu terdengar ya? Ah ternyata mimpi. Gue mimpi novel yang gue kirim diterima.
Padahal udah 9 bulan novel itu nggak ada kabar. Kayak orang mau melahirkan aja.
Dengan terpaksa deh gue bangun dari tempat tidur dan ke kamar mandi. Setelah selesai siap-siap, gue turun ke lantai bawah buat sarapan bareng bokap, nyokap dan abang gue. Belum turun, gue udah pas-pasan sama abang gue. Abang gue keluar kamar dengan aroma parfum yang cukup menyengat. Gue heran, sebenarnya dia itu mau ngampus apa jualan parfum?
"Bang, tadi gue mimpi novel gue diterima." Coba deh gue cerita ini ke abang gue. Abang gue ini udha berpengalaman dalam mengirim naskah, tapi nasibnya nggak seburuk gue. Salah satu novel dia udah ada yang diterbitin.
"Biasanya mimpi jam 6 pagi bisa kenyataan. Lo bangun tadi jam 6 lewat dikit kan?"
"Iya bang. Masa sih?" Paling ini cuma teori buatan dia sendiri. Jujur, gue baru denger ada teori mimpi jam 6 pagi bisa kenyataan.
"Ditunggu aja. Novel gue yang diterbitin juga karena mimpi jam 6 pagi. Hahaha." Gue nggak seneng kalau dia udah ketawa. Kesannya kayak nenek lampir menang undian.
Gue nggak gubris tawaan maupun mimpi jam 6 pagi. Gue nyusul abang gue ke meja makan.
Lagi asik-asik makan. Telepon rumah bunyi. Gue cuma diem. Jangan-jangan bener lagi. Nggak perlu gue angkat. Bik Nok yang angkat. Gue jadi deg-degan. Nggak tau kenapa. Bik Nok tiba-tiba dateng ke meja makan bahwa ada telepon buat gue dari publisher. Deg! Gue nengok ke abang gue. Dia cuma senyum nggak ikhlas ke gue dan mengangguk. Gue pun ke meja telepon.
"Halo. Saya Feronika Mauldy Khairunnisa Santoso."
"Selamat novel yang anda kirimkan kepada kami yang berjudul Long Died Realitionship diterima. Akan kami terbitkan dua bulan ke depan."
Gue coba nggak seneng dulu. Mungkin saja ini mimpi. Gue diem. Tiba-tiba abang gue lewat dan tangannya usil nyubit pipi gue. Sakit. Berarti ini nyata bukan mimpi.
"ELO BENER BAAAANG!!! NOVEL GUE DITERIMA!!! NOVEL LO BAKAL KALAH SAMA NOVEL GUE. HAHAHA."

Gue seneng. Intinya, yang mau apa-apa. Lebih baik kalian tidur jam 6 pagi dan mimpiin apa yang kalian mau. Selamat mencoba :D

Senin, 19 Agustus 2013

Jodoh Pasti Bertemu



Pergilah kasih kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala keinginanmu
Terdengar lantunan dari radio lagu Pergilah Kasih dari D’Masiv. Alifah menghayati lirik demi lirik lagu tersebut. Sambil melihat rintikan hujan diluar jendela yang sudah satu jam tak berhenti. Suasana rumah sunyi, hanya terdengan rintikan hujan yang menemani kesunyian Alifah. Semakin Alifah menghayati lagu yang diputar dari radio, semakin panas matanya. Tak terasa butiran air mata dari mata indah Alifah menetes dan jatuh ke pipinya.
Alifah sedang merindukan seseorang. Seseorang yang dulu selalu disampingnya dan berdiri tegap menjaganya, kini sirna. Seorang laki-laki bernama Rifa. Sirna karena keinginan abi Rifa untuk meneruskan Rifa ke SMA yang jauh dari pandangan Alifah. Alifah kalut dalam kesedihan. Ia hanya bisa berdoa semoga Rifa mendapat sekolah yang nyaman untuknya.

...

Handphone Rifa disita ustadz Azhar, Rifa hanya bisa diam tak berani memberontak. Karena sudah banyak aturan di pesantren ini yang ia langgar. Rifa semakin bertanya-tanya, apakah Allah tak mengizinkannya untuk terus berhubungan dengan Alifah? Rifa pun bangkit dari tempat tidur dan melangkahkan kaki ke kantor, menemui ustadz Azhar untuk menanyakan perihal ini.
“Tad, boleh saya tanya sesuatu?” Ustadz Azhar yang sedang membereskan buku-buku membalikkan badan.
“Tentu boleh. Ada apa?”
“Bagaimana Islam menanggapi soal pacaran Tad?” Ustadz Azhar agak kaget mendengar pertanyaan Rifa.
“Gini.” Ustadz membenarkan posisi duduknya. “Islam sangat melarang umatnya mendekati zina. Jelas kamu tahu aktivitas pacaran itu apa saja. Aktivitas itulah yang mendekati zina.” Terang ustadz Azhar.
“Tapi Tad. Bagaimana dengan LDR? Long Distance Realitionship, hubungan jarak jauh.” Rifa coba mencari tahu.
“Zina hati, zina pikiran. Benar bukan? LDR juga memikirkan sang kekasih disana, itu zina pikiran. Karena sang kekasih belum menjadi mahram kita.”
“Lalu?”
“Itu hanya cinta semu Fa. Cinta sesungguhnya hanya kepada-Nya. Allah swt.” Walau sedikit tak mengerti apa yang diucapkan ustadz Azhar, Rifa hanya mengangguk-angguk.
Lalu kembali ke kamarnya. Dan memikirkan kata-kata ustadz Azhar.

...

Sudah berpuluh-puluh kali Alifah mengirim pesan ke Rifa. Sudah berkali-kali juga ia menelpon Rifa. Namun hasilnya tetap nihil. Istirahat sekolah ini, Alifah hanya duduk dan menatap handphonenya. Menantikan Rifa memberi kabar. Izzah, sahabatnya, yang baru pulang shalat dhuha sedih melihat Alifah seperti ini.
Izzah langsung duduk di sebelah Alifah.
“Zah, kok Rifa nggak ngasih kabar ya?”
“Fah, sampai kapan kamu terus mikirin cinta semu itu? Sedangkan kamu mulai melupakan cinta yang sebenarnya.” Izzah sudah tak tahan melihat Alifah seperti ini.
“Maksudmu?” Tanya Alifah memandang Izzah.
“Gini, Rifa itu hanya cinta semu. Cinta sebenarnya itu hanya milik Allah. Bukan maksudku untuk menceramahimu.”
“Lalu?”
“Jodoh nggak kemana Fah. Kalau kamu ditulis di Lauhul Mahfudz dengan Rifa. Pasti ada jalan yang lebih baik. Tanpa hubungan yang nggak direstui oleh Allah ini. Kalau memang bukan Rifa, pasti kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari Rifa.”
Alifah hanya diam. Mencermati setiap kata-kata Izzah yang dilontarkan untuknya. Alifah memang jadi jauh dengan-Nya semenjak berpacaran dengan Rifa.

...

Rifa pun memutuskan untuk fokus ke Ujian Nasional, Alifah pun begitu. Rifa berencana untuk kuliah di Kairo, menambah ilmu agama Islam. Sedangkan Alifah akan mengikut tes SPMB dengan pilihan pertama UI, lalu kedua UGM. Rencananya Alifah akan mengambil sastra untuk menggali ilmunya untuk membuat novel dan cerpen.
Mereka berdua mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing sehingga hubungan mereka benar-benar terputus.
Hasil tes SPMB keluar tepat ketika Rifa akan berangkat ke Kairo. Alifah diterima di UI di sastra bahasa Indonesia. Sedangkan Rifa sudah mengincar salah satu perguruan tinggi di Kairo. Yang mungkin cocok dengannya. Saat ini Rifa sudah di bandara di temani abi, umi dan adik-adiknya.

...

Alifah masih berkumpul dengan anggota Rohis angkatannya ketika SMP. Saat ini juga sedang berkumpul di musholah SMP dengan anak ikhwan Rohis yang seangkatan dengan Alifah di SMP ini juga. Saat ini mereka berkumpul karena akan kedatangan seseorang dari luar negeri. Alifah tak tahu siapa orangnya.
“Assalamualaikum. Kak BU mengumpulkan kalian disini karena kita akan menyambut salah satu teman kalian yang pulang kuliah dari Kairo.”
Mendengar kak BU bilang begitu. Semua langsung ribut. Pertanyaan mereka semua hampir sama, siapa? Mereka jelas kaget ada teman seangkatan mereka yang melanjutkan studi ke Kairo.
“Dan sekarang orangnya sedang dijemput oleh Zakiy di stasiun.”
Panjang umur, suara deru motor terdengar mendekati musholah. Zakiy masuk musholah disusul dengan... Rifa! Alifah benar-benar kaget dengan kedatangan Rifa kesini.
“Rifa. Sehat akhi?” Tanya kak BU.
“Alhamdulillah saya sehat kak.”
Alifah hanya termangu melihat Rifa yang sudah dewasa. Terakhir Alifah melihat ketika kelulusan SMP. Dan sekarang mereka sudah lulus kuliah. Sudah berapa tahun lamanya tak melihat? Dan tentu saja hubungan mereka sudah berakhir ketika mereka saling mengerti arti cinta sesungguhnya.

...

Bunda sudah menyuruh Alifah untuk mencari pasangan hidup. Karena umur Alifah yang memang sudah matang untuk menikah.
“Fah, sudah ada calon?” Tanya bunda suatu hari.
“Belum tahu bu. Nanti coba Alifah tanya ke kak Nana. Mungkin ada calon yang cocok untuk Alifah.”
Esoknya, Alifah mengunjungi rumah kak Nana, untuk menanyakan perihal itu. Alifah ingin melakukan ta’aruf dengan seorang ikhwan pilihan kak Nana. Alifah yakin, mentornya saat SMP ini pasti akan memilih calon yang cocok untuk Alifah.
“Kamu sudah siap untuk menikah dek?” Tanya kak Nana.
“Iya kak. Kaka ada calon untukku?”
“Sepertinya ada. Minggu depan kamu datang lagi untuk mengambil biodata ikhwan itu.” Kak Nana tersenyum. Alifah lega mendengar kak Nana punya calon untuknya.

...

“Tadi Alifah datang ke rumah kak Nana. Ia ingin melakukan ta’aruf dengan seorang ikhwan yang sudah siap. Bagaimana denganmu?”
“Insya Allah saya siap kak.”
“Kamu tulis biodata singkat kamu disini ya. Minggu depan Alifah akan datang kesini untuk mengambil biodatamu.
“Iya kak.”

...

Alifah masih galau. Siapa yang dipilih kak Nana untuk menjadi calonnya nanti? Pernah kak Nana memperkenalkan adik asuhnya di tempat mengajarnya dulu. Namanya Shidiq. Seorang ikhwan yang sudah menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Tentunya dengan ilmu agama yang sudah tak diragukan lagi.
Mungkin itu calon yang akan berta’aruf dengan Alifah. Karena memang sepertinya kak Nana ingin mencalonkan Alifah dengan Shidiq. Dengan pertanyaan kak Nana yang sempat terlontar ketika menyampaikan materi waktu itu.
Di luar jendela, hujan semakin deras. Alifah merasakan kesejukan dalam dirinya.

...

Hari ini, tepat seminggu dengan hari yang dijanjikan kak Nana. Alifah pamit ke bunda untuk mengambil biodata calon untuk Alifah.
“Hati-hati di jalan ya nak.”
“Iya bun. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Alifah mengucapkan bismilah ketika kakinya sudah melangkah keluar rumah. Perjalanan cukup jauh, butuh waktu setengah jam untuk sampai.
Sampai sana, kak Nana sudah menunggu di ruang tamu. Tentunya sambil memegang sebuah amplop coklat besar. Tersenyum ke Alifah. Alifah langsung duduk.
“Ini. Baca basmalah dulu dek.”
“Iya ka. Tapi aku buka di rumah saja boleh?”
“Tentu. Hati-hati ya dek.”
Alifah langsung pamit dan membawa sebuah amplop yang berisi sebuah biodata dari calonnya. Tangannya gemetar.

...

Di kamar, Alifah menyetel radionya. Ia pulang tepat waktu. Hujan turun ketika ia sudah sampai di rumah. Suasana kamar menjadi dingin karena udara di luar. Alifah masih duduk di tepi ranjang sambil memegang amplop coklat itu. Bismillah.
Alifah membuka selotip yang menutup rapat amplop tersebut. Pelan-pelan ia menarik ke luar kertas yang berada di dalam amplop. Di paling atas tertera nama dan Alifah melihat ke arah kanan kertas. Calonnya bernama Rifa Ashykya. Subhanallah. Alifah tak menyangka melihat nama Rifa tertera di kertas itu. Matanya langsung panas. Dan butiran-butiran dari air matanya jatuh di pipi.
Tepat ketika butiran air mata jatuh di pipi Alifah. Penyiar radio memutarkan sebuah lagu request dari seseorang. Lagu Jodoh Pasti Bertemu dari Afgan.
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu
Sungguh indah ketika kita mencintai cinta yang sesungguhnya. Cinta kepada-Nya lah yang sesungguhnya. Betapa indah pula kado yang terindah dari-Nya untuk hamba seperti Alifah yang senantiasa menunggu jodohnya. Menunggu tanpa hubungan yang tak diridai oleh-Nya. Butir-butir air mata Alifah semakin banyak jatuh di pipinya ketika melihat kembali kertas itu menuliskan nama Rifa. Karena tak percaya akan semua ini.