Senin, 07 Januari 2013

Beruntungnya Menjadi Amel



Di Kantin.
              “Besok elo mimpin senam kan, Bel?” Tanya Mila kepadaku.
              “Hmm..Tapi rada males juga, Mil.” Jawabku lemas, menyender ke punggung kursi sambil menikmati jus alpukat buatan mas Pur, tukang jus di kantin belakang.
              “Emangnya kenapa, Bel?” Tanya Mila lagi.
              “Lagi ada problem nih sama kak Rini, gara-gara gue deket sama mantannya. Malah dia nuduh gue sebagai penyebab putusnya hubungan mereka, Mil, Mil. Padahal gue deket sama mantannya aja setelah dia putus.” Celotehku.
              “Lagi elo juga sih, Bel. Dari dulu nggak pernah hilang sifat centil elo sama kakak kelas cowok yang nan kece-kece” Cecar Mila, yang tahu persis sifatku itu.
              “Udah bawaan dari lahir Honey Bunny Sweety. Susah dihilangin nih.” Jawabku jujur.
              Up to you ya, Bel. Dari SMP elo emang nggak ada kapoknya dilabrak dan punya banyak masalah sama kakak kelas. Sepertinya itu malah hobi baru elo ya, Bel?” Tanya Mila to the point.
              “Nggak ko Milaku sayangku cintaku. Bukan hobi baru, tapi hobi dari dulu. Hehehe.” Cengirku, memamerkan deretan gigi nan putih kepadanya.
              “Terserah elo deh, Bel. Gue mau ke kelas.” Mila meninggalkanku.
              Ya, aku tahu. Dia sangat kecewa denganku karena aku hanya berjanji dengannya untuk menghentikan kekonyolan ini- membuat kakak-kakak kelas cewek cemburu dengan cara ia dekat dengan kakak-kakak kelas cowok nan kece-kece-. Sudah dari kelas 2 SMP aku menjalankan kekonyolanku itu, berarti sudah 2 tahun.
...
              Acara senam memang paling ditunggu murid-murid dan guru-guru sesekolahan ini. Mengapa? Karena kita bisa melihat teman-teman kita yang setiap hari menggunakan seragam sekarang menggunakan baju bebas yang cocok untuk senam dan guru-guru kita yang setiap harinya berdandan formal kini memakai baju bebas yang cocok untuk senam juga.
              Hari ini aku memakai seragam senam berwarna biru soft yang tidak terlalu ngepas di badan. Agar terlihat lebih sopan. Dan kedua rambutku dikuncir kuda, dengan poni dora yang tak kalah menghiasi wajahku pagi ini. Hari ini pula aku sedikit datang terlambat karena mobil mas Bams, sopirku, mogok di tengah jalan.
              “Bel, ayo sini! Bu Pur sudah manggilin kamu buat pimpin senam hari ini!” Teriak Mila dari lapangan.
              “Iya bentar, Miiil! Ini lagi iket sepatu gue yang lepaas!” Sahutku tak kalah keras dari teriakannya Mila.
              Dan, aku sudah berada di atas podium lapangan sekolahku. Banyak pasang mata memandangku dengan berbagai macam pandangan. Ada pandangan iri, pandangan takjub, pandangan sinis, dan sebagainya. Sudah pasti pandangan kak Rini dan teman-temannya adalah sinis, sedangkan untuk para kakak kelas cowok memandangku takjub.
              “Kita senam dulu ya every body! Musiik!” Teriakku. Dan dengan segera bu Pur menyalakan CD Player, terdengar lagu poco-poco mengalun.
              Aku memimpin senam pagi ini, senam yang dihiasi canda tawa murid-murid dan guru-guru yang mengikutiku senam membuatku dapat tersenyum lebar, berseri. Hari ini, rencanaku untuk lagu pendinginan adalah lagu Agnes Monica dengan Matahariku. Menurutku, lagu itu melow sehingga cocok untuk pendinginan senam kali ini.
              Setelah senam poco-poco sudah selesai. Aku melanjutkan untuk senam pendinginan, agar sehabis ini tidak ada yang kram.
              “Bu Puur, Matahariku cekidoot.” Teriakku lantang. Dan alunan lagu Agnes Monica dengan Matahariku mengalun indah. Ah rasanya aku terbawa lagu ini, sampai-sampai aku baru engeh ketika teman-teman meneriakanku kalau lagu itu sudah habis. Konyol.
...
              Dengan segera, aku dan Mila ke kantin untuk membeli jus alpukat plus burger chees kesukaanku dan jus melon plus spagheti kesukaan Mila. Kami ambil tempat duduk di bawah pohon mangga yang dibawahnya sudah ada meja plus bangku, ini memang tempat favoritku dengan Mila. Aku menikmati pesananku dan juga Mila menikmati pesanannya.
              Kalau sudah begini, Mila bakal cerita panjang lebar tentang hubungan LDRnya bareng Aldy yang sudah berjalan 3 tahun. Mila di Bogor, sedangkan Aldy di Wonogiri. Sungguh! Aku kagum pada Mila, ia bisa setia disini, padahal belum tentu Aldy disana juga setia. Mila juga tahan dengan godaan beberapa kakak kelas cowok nan kece-kece disini yang sudah berusaha payah menaklukan hati Mila. Tetap saja dihati Mila hanya satu, ALDY!
              “Itu ada apaan sih rame-rame, Mil?” Tanyaku yang agak terusik dengan keramaian di depan kelas 10-5 yang terletak di dekat kantin.
              “Mana, Bel?” Tanya Mila yang ternyata tidak menyadari keramaian di sudut kantin.
              “Itu loh depan kelas 10-5, Mil. Ko pada teriak-teriak cie-cie sih?” Tanyaku lagi, penasaran.
              “Oh..Itu. Waktu itu Amel cerita ke gue baru deket sama kak Rio, itu mantannya kak Rini. Trus katanya kak Rio mau nembak Amel langsung, Bel.” Cerita Mila.
              “APA? Kak Rio ko nggak pernah cerita ke gue seh?” Aku kaget. Sumpah! Selama dekat dengannya aku merasa hanya aku yang sedang dekat dengan dirinya. Sial!
              “Ckck. Mana gue tau, Bel.”
              Aku langsung menuju keramaian, mengabaikan jawaban terakhir Mila dan meninggalkannya. Aku berusaha menyempil diantara mereka-mereka yang mengerubungi kak Rio dan Amel, setelah berusaha payah melewati rintangan dan hap! Aku sudah berada di depan persis kejadian. Kak Rio berlutut memberikan bunga mawar merah kepada Amel, sedangkan Amel malu-malu menanggapi kak Rio.
              Aku senang, karena ini membuktikan kalau bukan karena aku hubungan kak Rio dan kak Rini kandas, tetapi karena Amel. Ada sedikit rasa nyesek di sudut hatiku, namun tak apalah. Toh, hubunganku dengan kak Rio hanya sekedar adik-kakak, tidak lebih.
              Amel melihat ada sepasang mata melihat kejadian itu juga dari seberangku, kak Rini. Aku sangat tahu perasaan kak Rini saat ini, mungkin benar-benar hancur. Melihat sang mantan yang masih sangat ia sayangi menembak seorang adik kelas yang sudah membuat hubungan mereka hancur dan sekaligus merebut perhatian kak Rio. Pasangan Double R “Rio-Rini” sudah tiada.
            Amel mengambil mawar merah yang berada di tangan kak Rio, dan pada saat itu juga suara riuh pikuk sekitar berteriak “hore”. Aku melihat ke arah kak Rini, ia tersenyum kepadaku. Aku tahu, itu senyum sok tegarnya. Dan, betapa beruntungnya Amel saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar